PDIKM_Padangpanjang
Opini,

REVOLUSI KAMPUANG: Kolaborasi Rantau-Kampung untuk Membangun Sumatera Barat

Oleh: Faldo Maldini (co-founder www.pulangkampuang.com)

Kampuang dan Rantau adalah dua entitas yang sering diucapkan di Minangkabau. Orang Minang, sejak awal memang disarankan (lebih tepatnya didorong) untuk merantau. Merantau merupakan ciri khas orang Minang yang sudah terkenal se-antero Indonesia.

Orang Minang merantau bukan untuk menjadi penguasa, tapi mencari kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan di kampung saja. Silahkan cari se-Indonesia, apakah bisa ditemukan “kampung minang”? Saya jamin tidak ada karena memang perantau Minang tidak ingin berkel0mpok dan bikin front sendiri. Mereka melebur dan membaur. Mereka hidup bersama tempat dimana merantau.

Ada banyak narasi dan tulisan tentang merantau yang bisa kita baca. Untuk Orang Minang sendiri, dampak merantau ini bukan hal main-main. Kita sama-sama tahu, orang nomor dua di Republik ini kala deklarasi kemerdekaan adalah dari salah satu putra dari Minang. Namun ini bukan untuk bangga serta sedikit chauvinisme, bukan… Hanya untuk menyampaikan, Orang Minang di perantauan insyaAllah akan menjadi orang besar 🙂

Akan tetapi di sisi lain perlu menjadi sebuah diskusi dan perhatian bahwa besarnya putra minang di rantau harus merembet dengan pertumbuhan yang dirasakan oleh kampuang. Akan sangat disayangkan jika menjadi jawara di rantau namun tidak memiliki kekuatan apa-apa di kampuang.

Membangun Kampuang harus dari Kampuang?

Di sisi lain izinkan saya menyoroti sebuah paradigma bahwa jika ingin membangun “Minang harus orang yang hidup dan tumbuh di Minang”. Izinkan saya untuk challenge ide ini karena ada banyak faktor yang didorong oleh perkembangan zaman membuat pemikiran ini tidak lagi sepenuhnya benar.

Hari ini dunia semakin terhubung. Pulang ke Ranah Minang dari Jakarta hanya butuh kurang dari 2 jam atau bahkan bisa lebih cepat. Jika ingin diskusi dengan orang di kampung tinggal telfon atau bahkan skype. Konektivitas yang hadir di dunia hari ini seharusnya menghilangkan sekat dan batas antar region. Bahkan membangun sebuah negara bisa dilakukan dari negara lain dewasa ini.

Belum lagi dengan sebaran sumber daya manusia yang ada. Konsekuensi logis dari banyaknya SDM Minang yang berada di rantau adalah mereka bisa terus bertumbuh secara cepat di luar kampung. Bukan berarti saya bilang yang di rantau lebih keren daripada di kampuang.. Bukan.. Namun, persebaran Orang Minang ini tentu hal yang tidak bisa dielakkan.

Tahun 2000, jumlah penduduk beretnis Minang di Jabodetabek mencapai 429.205 orang. Sepuluh tahun kemudian, jumlah mereka bertambah jadi 529.888 orang. Pertumbuhan jumlah perantau semakin banyak seiring berjalannya hari. Asumsi dari pejabat Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, di setiap provinsi di Indonesia 1/10 nya terdapat orang Minang, artinya tidak sedikiti jumlah perantau Minang yang tersebar di setiap provinsi. Tidak lupa juga ada banyak perantau yang tersebar di luar negeri.

Rantau-Kampung Saling Membutuhkan

Kita tentu masih ingat kejadian gempa besar yang melanda Sumatera Barat pada tahun 2009. Kita bisa lihat bagaimana para perantau bahu membahu menya­lurkan bantuan bagi  korban gempa, baik moril maupun materil. Bantuan dari perantau bisa turut menjadi tambahan tenaga bagi pemerintah yang kala itu juga bekerja dengan keras.

Hal yang sama juga terjadi saat Lebaran, hari baik bulan baik, bantuan perantau melimpah untuk orang di kampung. Walaupun terpisah jarak, rantau-kampung saling membutuhkan. Hubungan antara keduanya bagaikan simbiosis mutualisme, saling menguntungkan satu sama lain.

Begitu pula dengan bagaimana dibutuhkannya kampung oleh para perantau. Kampung merupakan sumber dari segala inspirasi yang dimiliki perantau. “Ada orang tua dan sanak keluarga yang menanti di rumah” setidaknya akan menjadi pendorong agar yang merantau harus lebih sukses dan lebih baik dari hari kemarin.

Kolaborasi Rantau-Kampung

Kolaborasi adalah harga mati untuk membangun kampuang. Bekerja sama antar dua entitas, rantau dan kampuang, untuk membuat perubahan adalah hal yang perlu semakin digalakkan. Sebenarnya sudah ada banyak contoh kolaborasi antara rantau dan kampuang yang berhasil dan memberi manfaat besar, khususnya bagi kampuang.

Di daerah 50 kota, ada jembatan yang dibangun oleh para perantau untuk daerah tersebut. Bahkan di level mahasiswa yang masih kuliah di rantau juga telah banyak melakukan aksi-aksi nyata untuk pembangunan kampuang, khususnya bidang pendidikan. Hal yang sama juga terjadi sebaliknya, penyediaan informasi yang apik tentang kondisi kampuang bisa digambarkan oleh pihak kampuang sehingga jika ada kerjasama yang ingin dilakukan bisa menjadi semakin efektif.

Untuk semakin menguatkan kolaborasi ini pada akhirnya memang diperlukan sebuah wadah yang bisa menjadi media mencapai itu. Pemerintah provinsi Sumatera Barat sebenarnya telah memiliki Biro Pembangunan dan Kerjasama Rantau di Sekretariat Daerah. Biro ini tentu bisa menjadi pemain kunci dalam proses kolaborasi rantau-kampung ini.

Sebuah inisiatif yang digalang oleh www.pulangkampuang.com tentu juga perlu mendapat perhatian khusus. Dengan visi menjadi “hub” dan jembatan untuk orang Minang yang ada di kampuang dan rantau, maka www.pulangkampuang.com menjadi sangat relevan sebagai katalisator untuk melakukan perubahan di ranah minang, apalagi menggunakan teknologi untuk menjembatani ketidakhadiran fisik karena terpisah jarak.

www.pulangkampuang.com memiliki 3 aktivitas utama, yaitu seminar inspirasi yang akan berdampak pada capacity building orang orang di kampung dan juga rantau. Ada banyak sekali orang Minang yang sudah sukses yang bisa menjadi sumber inspirasi orang minang lainnya. Aktivitas kedua yang berupa portal crowdfunding (fundraising secara online) juga bisa menjadi motor membuat perubahan dengan melakukan banyak proyek sosial yang digagas warga dan didukung secara masif oleh siapapun. Pada akhirnya, kehadiran www.pulangkampuang.com sebagai portal media inspirasi akan menjadi rujukan setiap orang Minang yang ada di rantau dan kampung.

Gubernur Sumatera Barat pernah berujar pada satu kesempatan, bahwa peran perantau sangat diharapkan dalam pem­bangunan nagari/kelurahan. Beliau menambahkan bahwa APBD kabupaten/kota  lebih banyak tersedot untuk membayar gaji pegawai. Menyadari kondisi ini, maka potensi perantau Minang yang cukup besar perlu diberdayakan, digarap dan dihimpun sesuai yang dibutuhkan masyarakat. Mereka dilibatkan dalam membangun nagari/kelurahan dengan semangat kolaborasi.

 

Sumber gambar: Wikimedia

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments (2)

  1. Razi
    July 11, 2015 at 11:29 pm

    Semangat yang sangat baik, perlu pengkajian yg lebih dalam membangun kolaborasi kampng dng rantau. Penggunaan asumsi2 kuantitatif sebagai acuan awal tidaklah salah unt melahirkan gagasan. Besarnya dan majunya komunitas masyarakat minang di perantauan yg akan dijadikan suporting memajukan kampung juga tidak ada salahnya. Tetapi penggunaan paradima umum yg ada saat ini dimana para perantaulah yg mampu memajukan kampung adalah sebuah kesalahan yg sangat besar.
    Saya berharap kelompok orang muda ini harus mampu membalikkan paradigma tersebut dimana perantau memerlukan kemajuan kampung halamannya unt menunjang peningkatan prestasi perantauan mereka. Dengan demikian suatu struktur yg konstruktif akan terbetuk antara hubungan kampung dan rantau. Terbentuk simbiosis mutualisme tidak simbiosis penghambaan satu kelompok thd kelompok lainnya.
    Salam Pulang Kampung
    Terima kasih

  2. Evi
    July 13, 2015 at 12:42 pm

    Semoga kolaborasi rantau-kampuang tak hanya terbatas pada ide-ide saja, tapi turun dalam bentuk aksi nyata. Misalnya membenahi infrastruktur pariwisata Ranah Minang tercinta. Membangun jiwa yang berorientasi service tanpa menanggalkan jati diri…

Leave Comment


Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.